12 Tempat Wisata Terbaik dan Populer di Banda Aceh

Banda Aceh, ibu kota dari Provinsi Aceh, merupakan sebuah kota yang memancarkan pesona spiritual, sejarah, dan ketangguhan yang luar biasa. Dikenal luas dengan julukan Serambi Mekkah, kota ini menjadi pusat perkembangan peradaban Islam tertua di Asia Tenggara.

Jejak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam berpadu harmonis dengan keramahan khas masyarakat lokal, menjadikan Banda Aceh destinasi wisata budaya dan religi yang sangat memikat untuk dijelajahi. Dua dekade pasca-bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat tahun 2004, Banda Aceh telah bangkit sepenuhnya menjadi kota yang cantik, tertata rapi, dan modern tanpa melupakan akar sejarahnya.

Destinasi wisata di sini menawarkan perjalanan emosional yang mendalam, mulai dari kemegahan rumah ibadah kuno, situs-situs memori tsunami yang menyentuh hati, hingga keindahan alam pesisir pantai barat Sumatra yang menakjubkan. Jika Anda sedang merencanakan liburan yang sarat makna dan edukasi, berikut adalah panduan terlengkap mengenai tempat wisata di Banda Aceh yang wajib Anda kunjungi.

Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik dan Populer di Banda Aceh

Berikut adalah daftar objek pariwisata terpopuler di Banda Aceh yang diurutkan berdasarkan tingkat popularitas, volume ulasan positif tertinggi di Google, serta kualitas pengalaman rekreasi yang ditawarkan kepada para pengunjung:

1). Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman merupakan ikon paling abadi dari Banda Aceh yang kemegahannya telah diakui dunia. Berdiri megah sejak masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612, bangunan ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah, termasuk menjadi benteng pertahanan rakyat Aceh saat melawan agresi militer Belanda. Keajaiban masjid ini semakin tersohor secara global ketika strukturnya tetap berdiri kokoh tanpa kerusakan berarti di tengah terjangan ombak tsunami raksasa tahun 2004.

Arsitektur masjid ini sangat indah, mengadopsi gaya Mughal India klasik dengan dominasi dinding putih bersih, lantai marmer mewah, serta tujuh kubah hitam besar yang berwibawa. Pasca-revitalisasi modern, halaman luar masjid kini dilengkapi dengan belasan payung hidrolik raksasa yang menyerupai suasana Masjid Nabawi di Madinah, lengkap dengan hamparan rumput hijau dan kolam air mancur yang rapi. Berkunjung ke tempat ini pada sore hari memberikan kedamaian spiritual yang mendalam bagi setiap wisatawan.

2). Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh hadir sebagai sebuah mahakarya arsitektur yang dirancang secara genius oleh Ridwan Kamil untuk mengenang para korban sekaligus menjadi pusat edukasi bencana. Dari luar, bangunan megah berlantai empat ini terlihat unik karena menyerupai struktur kapal penyelamat berskala raksasa dengan dinding luar yang dihiasi oleh relief anyaman anyaman tradisional khas Aceh. Fungsi utama bangunan ini dirancang ganda, yaitu sebagai monumen peringatan sekaligus tempat evakuasi darurat jika bencana serupa terjadi lagi di masa depan.

Begitu melangkah ke dalam, pengunjung akan diajak menyusuri lorong sempit beratap tinggi yang gelap dan basah oleh percikan air, yang populer disebut Space of Fear, guna mensimulasikan kepanikan masyarakat saat tsunami datang. Jalur ini kemudian membawa wisatawan menuju Memory Ambient, sebuah ruangan silinder tinggi yang dindingnya dipenuhi oleh ribuan nama korban tsunami berlatar belakang lautan kaligrafi suci. Museum ini menyimpan koleksi foto dokumentasi autentik, sisa barang warga yang hancur, hingga ruang audiovisual interaktif digital yang sangat menyentuh emosi.

3). Monumen PLTD Apung 1

Monumen PLTD Apung 1 merupakan salah satu bukti nyata paling dramatis mengenai kedahsyatan kekuatan air tsunami di Banda Aceh. Objek wisata sejarah ini berupa sebuah kapal pembangkit listrik tenaga diesel milik PLN berbobot sekitar 2.600 ton yang terseret ombak laut sejauh lima kilometer dari pelabuhan Ulee Lheue hingga terdampar di tengah pemukiman padat penduduk Desa Punge Blang Cut. Pemerintah daerah sengaja mempertahankan posisi kapal raksasa ini di tempat asalnya terdampar sebagai monumen peringatan cagar budaya.

Kawasan di sekeliling kapal kini telah ditata menjadi taman edukasi yang rapi, dilengkapi dengan dinding relief yang menceritakan kronologi evakuasi warga sekitar saat bencana melanda. Wisatawan diperbolehkan untuk menaiki tangga besi menuju ke atas dek kapal guna melihat interior mesin pembangkit yang besar serta menikmati pemandangan perumahan Kota Banda Aceh dari ketinggian. Pemandangan kontras dari atas kapal ini menyajikan refleksi mendalam mengenai rapuhnya kehidupan manusia di hadapan kekuatan alam.

4). Situs Kapal di Atas Rumah Lampulo

Hampir serupa dengan fenomena PLTD Apung, Situs Kapal di Atas Rumah Lampulo menyajikan keajaiban visual lain yang tak kalah mencengangkan di kawasan pesisir Banda Aceh. Objek wisata ini berupa sebuah kapal kayu penangkap ikan berukuran panjang 25 meter yang terlempar oleh gulungan ombak tsunami hingga tersangkut kokoh di atas atap rumah beton milik salah seorang warga desa nelayan Lampulo. Keberadaan kapal kayu ini menjadi penyelamat mukjizat karena berhasil menyelamatkan puluhan warga yang terjebak di dalam air pasang saat itu.

Pihak pengelola telah membangun tiang-tiang penyangga besi yang kuat di sekeliling rumah untuk menjaga agar posisi kapal kayu tersebut tetap stabil dan aman dikunjungi pelancong. Wisatawan dapat menaiki jalur pedestrian panggung layang (gangway) yang dibangun sejajar dengan posisi kapal untuk melihat detail kerusakan lambung kapal dari dekat. Kisah-kisah testimoni mengharukan dari para korban selamat yang bertahan di atas kapal ini tertulis rapi di papan informasi, memberikan nilai edukasi kemanusiaan yang mendalam.

5). Museum Negeri Aceh

Museum Negeri Aceh, atau yang akrab disebut Museum Aceh, merupakan salah satu museum tertua di Indonesia yang didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1915. Daya tarik utama yang menjadi pusat perhatian di halaman depan museum ini adalah Rumoh Aceh, sebuah rumah panggung tradisional asli suku Aceh berbahan kayu jati solid purba tanpa menggunakan paku besi tunggal, melainkan memanfaatkan sistem pasak kayu tradisional yang elastis terhadap guncangan gempa bumi.

Di dalam bangunan utama museum yang bergaya modern, tersimpan puluhan ribu koleksi artefak bernilai sejarah tinggi yang menceritakan peradaban Aceh dari masa prasejarah, kejayaan kesultanan Islam, hingga era perjuangan kemerdekaan melawan penjajah. Pengunjung dapat mengagumi berbagai koleksi pakaian adat, senjata tradisional rencong bertatahkan permata, naskah kuno bertulisan tangan, hingga Lonceng Cakra Donya kuno yang merupakan hadiah dari Kaisar Tiongkok dari Dinasti Ming abad ke-15 kepada Sultan Aceh.

6). Taman Putroe Phang

Taman Putroe Phang merupakan situs taman kerajaan bersejarah yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada awal abad ke-17 untuk permaisurinya tercinta, Putri Kamaliah, yang berasal dari Kesultanan Pahang, Malaysia. Berlokasi tidak jauh dari kompleks istana, taman ini didirikan khusus sebagai penawar rasa rindu sang putri terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit indah, menyajikan tata ruang taman air yang tenang dan asri di tengah kota.

Kawasan hijau ini mengalirkan aliran Sungai Krueng Daroy yang jernih di tepiannya, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan rumput hijau yang terawat bersih. Di dalam kompleks taman ini, pengunjung dapat melihat struktur bangunan beton kuno berarsitektur indah peninggalan kerajaan yang masih kokoh tegak berdiri, menjadikannya ruang terbuka publik yang sangat nyaman untuk piknik keluarga santai atau sekadar berjalan kaki menghirup udara bersih bebas polusi kendaraan.

7). Gunongan

Gunongan merupakan struktur bangunan monumental berbentuk gunung kecil buatan berundak-undak yang terletak masih dalam satu kawasan historis dengan Taman Putroe Phang. Bangunan batu kapur berwarna putih bersih dengan arsitektur berbentuk kelopak bunga persegi tiga tingkat ini dirancang khusus menyerupai bentuk bukit-bukit di Pahang agar sang permaisuri bisa bermain dan menghabiskan waktu bersenang-senang bersama para dayang istana.

Wisatawan dapat mengagumi detail pahatan arsitektur purbanya yang memadukan unsur dekorasi kebudayaan Islam dan Melayu klasik yang anggun. Tepat di samping Gunongan, terdapat sebuah struktur batu berbentuk silinder datar bernama Peterana, yang dahulu digunakan sebagai tempat pemandian serta tempat duduk bersantai sang putri menikmati keindahan malam. Keunikan bentuk arsitekturnya menjadikannya salah satu spot foto sejarah yang sangat hits dan estetik bagi pemburu konten visual media sosial.

8). Pemakaman Militer Belanda Kerkhof Peutjut

Kerkhof Peutjut merupakan kompleks pemakaman militer Belanda bersejarah yang memegang status penting sebagai pemakaman militer Belanda terbesar yang berada di luar negara Belanda sendiri. Di ladang rumput yang tenang dan rapi ini, terbaring lebih dari 2.200 prajurit, perwira, hingga jenderal pasukan elit tentara Belanda (KNIL) yang tewas dalam pertempuran sengit melawan ketangguhan rakyat Aceh selama Perang Aceh yang berkecamuk puluhan tahun.

Gerbang masuk kompleks pemakaman ini dirancang sangat megah dengan dinding batu tinggi yang dipenuhi pahatan nama-nama tentara Belanda yang gugur sebagai wujud penghormatan militer kuno. Menyusuri jalur pedestrian di antara barisan nisan marmer putih yang berjejer rapi memberikan gambaran berharga mengenai betapa mahalnya harga sebuah perjuangan kemerdekaan rakyat Aceh masa lalu. Tempat ini dirawat dengan sangat bersih dan teratur berkat kerja sama cagar budaya internasional.

9). Lapangan Blang Padang (Monumen Seulawah RI-001)

Lapangan Blang Padang merupakan alun-alun terbuka publik terbesar di pusat Kota Banda Aceh yang berfungsi sebagai pusat rekreasi warga, olahraga ringan, serta penyelenggaraan festival budaya tahunan. Ikon paling terkenal yang berdiri gagah di salah satu sudut lapangan ini adalah Monumen Pesawat Dakota RI-001 Seulawah, sebuah replika skala penuh dari pesawat terbang pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari hasil sumbangan emas rakyat Aceh.

Keberadaan monumen pesawat legendaris ini menjadi simbol kontribusi emas yang luar biasa kaya dari masyarakat Serambi Mekkah terhadap eksistensi kedaulatan awal pemerintahan Indonesia pasca-proklamasi. Di sekeliling lapangan ini, pengelola telah membangun jajaran tugu monumen kecil bertuliskan “Thanks to the World”, lengkap dengan bendera dari puluhan negara asing sebagai ucapan terima kasih tulus rakyat Aceh atas bantuan kemanusiaan global internasional pasca-tsunami.

10). Pantai Ulee Lheue

Bagi Anda yang merindukan aroma laut lepas Selat Malaka di sore hari, Pantai Ulee Lheue adalah pilihan rekreasi pesisir yang sangat mudah diakses dan terletak strategis dekat pusat kota. Pantai ini dibatasi oleh jajaran batu pemecah ombak beton berbentuk tetrapod yang tertata rapi di sepanjang tepiannya, menciptakan lintasan santai yang sangat nyaman untuk jalan kaki menikmati matahari tenggelam.

Aktivitas paling favorit yang dilakukan wisatawan dan warga lokal di Pantai Ulee Lheue adalah duduk bersantai di tepian dermaga sembari memancing ikan atau menikmati kehangatan jagung bakar mentega. Ombak di area teluk ini cenderung sangat tenang karena terlindung oleh pulau-pulau karang di depannya, menjadikannya tempat rekreasi senja yang romantis berlatar belakang lalu lalang kapal feri penyeberangan menuju Pulau Weh, Sabang.

11). Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Berdiri anggun tidak jauh dari bibir Pantai Ulee Lheue, Masjid Baiturrahim merupakan destinasi wisata religi dan sejarah cagar tsunami yang tak kalah menakjubkan dari Masjid Raya Baiturrahman. Didirikan sejak abad ke-17 warisan kesultanan, masjid ini merupakan satu-satunya bangunan fisik kokoh yang selamat dan tetap berdiri tegak berdiri di kawasan pesisir Ulee Lheue setelah seluruh rumah pemukiman warga di sekelilingnya rata dengan tanah diterjang ombak tsunami.

Arsitektur masjid ini memadukan gaya arsitektur Timur Tengah klasik dengan sentuhan ornamen kayu nusantara yang anggun pada kusen jendelanya yang kokoh. Di dalam ruangan museum mini masjid, pengunjung dapat melihat dokumentasi foto asli kondisi masjid yang berdiri kokoh sendirian di tengah puing kehancuran pantai pasca-bencana. Keasrian suasana dalam masjid ini menyajikan atmosfer spiritual khidmat yang mendalam bagi jemaah yang datang menunaikan salat.

12). Kompleks Makam Syiah Kuala

Kompleks Makam Syiah Kuala merupakan destinasi wisata religi cagar budaya penting yang terletak di kawasan pesisir Desa Deah Raya, Banda Aceh. Situs ini merupakan pemakaman suci dari Syekh Abdurrauf as-Singkili, seorang ulama besar karismatik bertaraf internasional abad ke-17 yang menjabat sebagai Qadhi Malikul Adil (Mufti Agung) Kesultanan Aceh Darussalam. Nama besar ulama inilah yang diabadikan sebagai nama universitas tertua di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala.

Kompleks makam yang sakral ini berada sangat dekat dengan garis pantai laut utara, namun secara menakjubkan area inti makam ulama ini selamat dari hantaman arus kuat tsunami tahun 2004 silam meski bangunan pagar luarnya hancur. Suasana di dalam kompleks makam terasa sangat teduh, sunyi, damai, dan sarat akan nilai spiritual spiritual keagamaan Islam, dikunjungi oleh peziarah domestik maupun mancanegara seperti Malaysia dan Brunei untuk berdoa penuh takzim.

Tips Nyaman Berwisata ke Banda Aceh

Agar rencana petualangan liburan Anda menjelajahi berbagai tempat wisata di Banda Aceh dapat berlangsung secara efisien, aman, dan berkesan mendalam, perhatikan beberapa tips praktis berikut:

1). Patuhi Qanun Syariat Islam dan Aturan Busana: Aceh merupakan daerah otonomi khusus yang menerapkan hukum Syariat Islam secara formal melalui Qanun daerah. Bagi wisatawan umum (terutama wanita), wajib mengenakan pakaian yang sopan, longgar, tidak transparan, serta menutup aurat secara rapi (sangat disarankan mengenakan hijab/kerudung saat mengunjungi tempat umum, dan diwajibkan penuh saat memasuki kompleks masjid). Bagi pria, hindari menggunakan celana pendek di atas lutut saat bepergian ke luar ruangan demi menghormati tata krama etika lokal masyarakat adat setempat.

2). Pahami Jadwal Salat dan Waktu Toko Tutup: Kehidupan sosial dan roda perekonomian di Banda Aceh sangat terikat erat dengan waktu ibadah salat fardu berjamaah. Pada waktu azan berkumandang, sebagian besar toko kelontong, restoran kafe, hingga loket tiket masuk objek wisata akan tutup sementara sekitar 15-30 menit untuk memberikan kesempatan bagi stafnya menunaikan salat. Khusus pada hari Jumat siang, seluruh aktivitas kota akan berhenti total mulai pukul 11.30 hingga 13.30 WIB untuk ibadah salat Jumat.

3). Eksplorasi Budaya Warung Kopi (Warkop) Tradisional: Liburan ke Banda Aceh tidak akan pernah lengkap tanpa memanjakan lidah dengan petualangan kulinernya di warung kopi lokal, mengingat Aceh merupakan salah satu produsen biji kopi terbaik di dunia. Sempatkan waktu Anda bersantai menikmati sore di kedai kopi legendaris untuk mencoba keunikan Kopi Solong atau Kopi Khop (kopi yang disajikan dengan gelas terbalik menggunakan sedotan) ditemani camilan tradisional jadah kue khas daerah yang murah meriah.

4). Sediakan Uang Tunai Pecahan Kecil Fisik: Perlu dicatat bahwa sistem perbankan di Provinsi Aceh beroperasi penuh menggunakan perbankan syariah (seperti Bank Syariah Indonesia/BSI dan Bank Aceh). Meskipun adopsi pembayaran nontunai berbasis kode QRIS sudah mulai banyak diimplementasikan di kafe hits modern pusat kota, ketersediaan uang tunai nominal pecahan kecil tetap sangat penting untuk keperluan membayar tiket masuk pos swadaya warga di situs tsunami terpencil, jasa pemandu lokal keraton, atau membayar retribusi parkir kendaraan mandiri di pinggir jalan.

Kota Banda Aceh secara konsisten berhasil membuktikan kapasitas kemajuannya bukan sekadar kota administratif biasa di ujung barat laut Indonesia, melainkan sebuah oase pariwisata urban-budaya dan religi terpadu paling potensial di Nusantara yang pesona kemegahan sejarahnya luar biasa memikat hati para pelancong dunia.

Keberhasilan daerah berjuluk Serambi Mekkah ini dalam merawat kelestarian arsitektur multikultural di Masjid Raya Baiturrahman, mengelola keunikan desain edukatif Museum Tsunami Aceh, serta mempertahankan keasrian ruang terbuka hijau taman kerajaan masa lalu memastikan seluruh ekspektasi gaya liburan keluarga maupun petualangan mandiri Anda terakomodasi secara memuaskan.

Kunci utama untuk memanen pengalaman dan memori liburan terbaik di wilayah ujung barat Sumatra ini terletak pada kedisiplinan Anda dalam merencanakan waktu kunjungan harian agar berjalan selaras menghormati waktu ibadah keagamaan setempat, serta kesediaan fisik mematuhi aturan etika tata krama hukum Syariat Islam lokal secara tulus.

Berita terkait